Persoalan – Persoalan Kebudayaan

Persoalan – Persoalan Kebudayaan 

Demikian luasnya cakupan kebudayaan semakin banyaknya persoalan- persoalan di tingkat detailnya yang tak habis-habisnya untuk dikaji. Namun dalam kepentingan kita ada dua permasalahan yang penting yaitu kita secara bersama-sama menghadapi globalisasi. Selain itu semakin pluralnya dunia kehidupan perlu kita mengajukan pemikiran-pemikiran tentang multikulturalisme.

A. Adaptasi Terhadap Globalisasi

  • Globalisasi adalah mengintensifnya hubungan-hubungan sosial dari dunia dimana tempat-tempat yang berjauhan saling mempengaruhi. Dengan demikian kejadian disuatu tempat diakibatkan oleh kejadian-kejadian yang bermil-mil jauhnya, demikian juga sebaliknya. Dalam arti yang sempit globalisasi dapat dipahami sebagai karakteristik globalisasi yang kecenderungan menyatunya internasionalisasi proses pembagian kerja internasional yang baru, perpindahan penduduk dari selatan ke utara, lingkungan kompetisi baru yang mempercepat proses itu, dan internasionalisasi negara sebagai agen globalisasi dunia. Kunci utama dalam memahami globalisasi adalah perekonomian kapitalisme mutakhir dan industrialisme.
  • Kapitalisme adalah sistem produksi komoditi, yang dipusatkan atas hubungan kepemilikan pribadi atas modal ke tanpa pemilikan pribadi dari tenaga kerja. Sisyem melahirkan sistem kelas antara pemilik modal dan tenaga kerja. Usaha kapitalis bergantung kepada pasar-pasar kompetitif, harga-harga yang menjadi pertanda bagi investor, produsen dan konsumen. Masyarakat kapitalis mempunyai ciri-ciri institusional tertentu, pertama : tahanan ekonomi yang sifatnya kompetitif dan ekspansif, selalu konsisten dalam inovasi teknologi. Kedua adalah ekonomi diisolasi dari institusi politik. Namun pembaharuan dan perubahan dalam bidang ekonomi dapat mengguncang institusi-institusi lain. Ketiga adalah penyekatan antara politik dan ekonomi yang didasarkan atas keunggulan dan kepemilikan pribadi dalam cara produksi. Keempat, otonomi negara dikondisikan oleh hal-hal yang menggantungkan nasib pada akumulasi modal. Seiring dengan kapitalisme adalah industrialisme. Industrialisme adalah suatu cara produksi yag menggunakan sumber energi yang berasal dari non hidup dimana berperan dalam permesinan dalam memproduksi barang- barang. Organisasi sosial harus teratur, mesin, input dn output bahan-bahan mentah dan barang-barang dapat terkordinasi dengan baik. Industrialisme kaena itu tidak hanya mempengaruhi tempat kerja, tetapi juga mempengaruhi transportasi, komunikasi dan kehidupan domestik. Dari kedua institusi tersebut dapat berjalan berkat adanya pengawasan ( surveillance ).
Tidak ada negara yang mampu membentengi diri dari gobalisasi karena tidak ada negara yang mampu berdiri sendiri dalam mencukupi kebutuhannya. Indonesia perlu devisa tetapi sumber daya manusianya tidak mampu mengolah sumber daya alam maka Indonesia mengundan investor asing untuk mengeksploitasi sumber daya tersebut. Harga BBM di Indonesia menyesuaikan denan harga BBM di pasar intenasional, penjualan aset-aset BUMN kepada perusahaan asing. Kecap Bango sekarang dimiliki oleh Unilever dari Belanda, pabrik rokok Sempurna sekarang dimiliki oleh perusahaan Philip Morris yang memproduksi rokok Marlboro.

Logika globalisasi yang merupakan anak kandung dari kapitalisme membuat pemerintah tak berdaya dalam menghadapi perusahaan-perusahaan multisional. Ini bukan hanya monopoli kita saja, dimana pun pemerintah tidak punya kekuatan dan memang tidak dibolehkan mencampuri urusan ekonomi dengan politik. Hal ini membawa dampak terhadap gejolak pada rakyat Indonesia, bagaimana reaksi masyarakat ketika mengahadapi kenaikan harga BBM. Subsidi tidak boleh dilakukan berdasarkan logika kapitalisme karena bisa mendistorsi pasar.

Apa yang dunia pendidikan kita rentan terhadap pengaruh global adalah semakin mudahnya tenaga ahli asing memasuki pasar kerja Indonesia dan semakin mudahnya perguruan tingi asing beroperasi di Indonesia. Ini adalah tantangan besar dalam mengahadapinya. Intinya adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Hal ini dapat dicapai dengan pendidikan manusia Indonesia. Hal ini telah membuat pemerintan menguji coba kebijakan-kebijakan kurikulumnya, kemudian memberi anggaran dana pendidikan yag lebih besar. 

Uji coba-uji coba kebijakan terus berlangsung sampai saat ini seiring degan kondisi global yang sangat dinamis. Salah satu indikator keberhasilan dalam meningkatkan mutu dapat dikatakan berhasil apabila lulusan dapat bersaing dalam pasar tenaga kerja internasional.

Kebudayaan sebagai sistem adaptasi terhadap lingkungan global adalah meningkatkan mutu sumber daya manusia. Bagaimana upaya untuk meningkatkan mutu maka harus diciptakan suatu etos kerja yang tinggi. Telah terbukti bangsa-bangsa yang mempunyai etos kerja yang tinggi berhasil mengejar ketertinggalan dengan bangsa-bagsa lain yang lebih dulu maju.

B.  Multikulturalisme
  • Persoala multikulturalisme perlu menjadi pusat perhatian dalam rangka mebangun suatu masyarakat yang terintegrasi. Kekayaan budaya Indonesia dapat menjadi sumber konflik apabila tidak ditangani dengan baik. Contoh yang representif adalah masyarakat. Sumatera Utara yang sangat beragam yang menyimpan potensi konflik walaupun sampai saat sekarang kita masih beranggapan bahwa sekarang masih aman-aman saja. Negara-negara maju mengembangkan kebijakan multikulturalisme untuk mengintegrasikan penduduknya yang beranekaragam dari segi kebudayaannya. 
C. Masyarakat Majemuk
  • Masyarakat majemuk adalah masyarakat yang terdiri dari berbagai macam karakteristik kebudayaan baik perbedaan dalam bidang etnis, golongan, agama, tingkat sosial yang tinggal dalam suatu komunitas tertentu.Dalam kajian masyarakat majemuk,kajian tentang etnisitas banyak mengambil perhatian para ahli.

Menurut J.S. Furnivall, masyarakat majemuk merupakan masyarakat yang terdiri atas dua atau lebih komunitas maupun kelompok-kelompok yang secara budaya dan ekonomi terpisah serta memiliki struktur kelembagaan yang berbeda satu dengan lainnya.

Nasikun, menyatakan bahwa masyarakat majemuk merupakan suatu masyarakat yang menganut sistem nilai yang berbeda di antara berbagai kesatuan sosial yang menjadi anggotanya. Para anggota masyarakat tersebut kurang memiliki loyalitas terhadap masyarakat sebagai suatu keseluruhan, kurang memiliki homogenitas kebudayaan, atau bahkan kurang memiliki dasar untuk mengembangkan sikap saling memahami.

E. Multikulturalisme Sebagai Ideologi
  • Multikulturalisme adalah sebuah ideologi yang mengakui dan mengutamakan perbedaan kesederajatan,baik perbedaan individu maupun kelompok yang di lihat secara budaya dalam masyarakat. Lawrence A. Blum, seorang guru besar filsafat di Universitas of Massachusetts di Amherst, mengatakan definisi multikulturalisme sebagai berikut. “Multikulturalisme meliputi sebuah pemahaman, penghargaan dan penilaian atas budaya seseorang, serta sebuah penghormatan dan keingintahuan tentang budaya etnis orang lain. Ia meliputi sebuah penilaian terhadap budaya-budaya orang lain, bukan dalam arti menyetujui seluruh aspek dari budaya-budaya tersebut, melainkan mencoba melihat bagaimana sebuah budaya yang asli dapat mengekspresikan nilai bagi anggota-anggotanya
  • Masyarakat multikultural Indonesia adalah sebuah masyarakat yang berdasarkan pada ideologi multikulturalisme atau Bhinneka Tunggal Ika yang multikultural, yang melandasi corak struktur masyarakat Indonesia. 
Pada masyarakat multikultural, individu maupun kelompok dari berbagai budaya dan suku bangsa hidup dalam kesatuan sosial tanpa kehilangan jati diri budaya dan suku bangsanya meskipun tetap ada jarak. Masyarakat multikultural merupakan masyarakat yang kelompok suku bangsa dan budayanya berada dalam kesetaraan derajat dan toleransi sejati.

Adapun karakteristik dari suatu masyarakat multikultural dapat diuraikan sebagai berikut. 
Dalam masyarakat multikultural, tiap-tiap budaya bersifat otonom. 
Masyarakat multikultural dalam perkembangannya akan bersinggungan dengan konsep hidup bersama untuk mencari kehidupan bersama. 
Adanya semangat untuk hidup berdampingan secara damai (peaceful coexistence) dalam perbedaan kultur yang ada, baik secara individual maupun secara kelompok dan masyarakat. 
Dikembangkannya toleransi, saling memahami, dan menghargai perbedaan yang ada. 
Terkait dengan upaya pencapaian civility (keadaban), yang amad esensial bagi terwujudnya keadaban yang demokratis. 

Dalam model multikulturalisme ini, sebuah masyarakat pandang sebagai sebuah kebudayaan yang berlaku umum dalam masyarakat tersebut yang coraknya seperti sebuah mozaik. Di dalam mozaik tercakup semua kebudayaan dari masyarakat-masyarakat yang lebih kecil yang membentuk terwujudnya masyarakat yang lebih besar, yang mempunyai kebudayaan yang seperti sebuah mozaik tersebut. Model multikulturalisme ini sebenarnya telah digunakan sebagai acuan oleh para pendiri bangsa Indonesia dalam mendesain apa yang dinamakan sebagai kebudayaan bangsa, sebagaimana yang terungkap dalam penjelasan Pasal 32 UUD 1945, yang berbunyi “Kebudayaan bangsa (Indonesia) adalah puncak-puncak kebudayaan di daerah”.

Hal yang harus kita waspadai adalah munculnya perpecahan etnis, budaya dan suku di dalam tubuh bangsa kita sendiri. Bangsa Indonesia yang kita ketahui bersama memiliki bermacam-macam kebudayaan yang dibawa oleh banyak suku, adat-istiadat yang tersebar di seluruh Nusantara. Dari Sabang sampai Merauke kita telah banyak mengenal suku-suku yang majemuk, seperti; Suku Jawa, Suku Madura, Suku Batak, Suku Dayak, Suku Asmat dan lainnya. Yang kesemuanya itu mempunyai keunggulan dan tradisi yang berbeda satu dengan yang lainnya.

Share :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Histats

Pengikut