Pengertian Kebudayaan dan Asal usul kata Budaya

Apa itu  Kebudayaan dan Asal usul kata Budaya
Betapa uniknya tingkah laku seorang individu tetapi ia harus menyepakati adanya tingkah laku yang berlaku bagi semua orang. Misalnya orang inggris tidak makan daging anjing, Orang muslim tidak makan daging babi. Contoh lainnya ketika didalam upacara bendera orang akan menyanyikan lagu kebangsaan dengan hikmat. Pola-pola tingkah laku umum tadi merupakan ekspresi dari kebudayaan sekelompok orang.

Kita tidak menyadari kebudayaan kita sendiri karena karena tingkah laku kita ”dituntun” oleh kebudayaan kita. Dengan otomatis tanpa banyak pertimbangan kita membaca do’a didalam hati jepada tuhan. Kita sadar ketika kita mendapatkan orang lain yang mempunyai keyakinan dan kebiasaan yang berbeda dengan kita. Orang lain dengan kita berdo’a dengan hikmatnya dengan suara yang bisa didengar oleh semua yang hadir dimeja makan. Kita sadar bahwa cara berlalu lintas orang-orang di negeri lain sangat toleransi kepada pengguna jalan lain sehingga tidak berhenti seenaknya, menghargai pejalan kaki yang sangat berbeda dengan cara berlalu lintas di kota medan. Ketika kita sadar akan perbedaan tingkah laku tersebut bahwa ada perbedaan dalam kebudayaan.

Suatu pemikiran dikatakan kebudayaan bila pemikiran tersebut sudah dipunyai oleh anggota masyarakat. Tapi kita melihat sistem pertanian subak di bali, sistem peladangan berpindah, sistem kekerabatan masyarakat batak, sistem kesenian masyarakat, sistem religi suatu masyarakat, konsumerisme, sistem standar mutu global merupakan suatu subsistem dari kebudayaan yang lebih luas. Kata kebudayaan biasa digunakan oleh orang yang mewakili kebiasaan-kebiasaan tertentu dari suatu masyarakat. Misalnya kalau orang batak, jawa, atau lainnya menari maka tarian itu di sebut sebagai budaya batak, jawa, atau yang lainnya. Terlalu kecil untuk menyebut tarian sebagai kebudayaan. Tetapi kalau kita ambil sebagai contoh, kalau orang berpakaian ’’you can see” disebut orang tersebut sudah dipengaruhi oleh budaya barat. Hal ini terlalu menyederhanakan persoalan dan menumpulkan konsep kebudayaan.

Kata budaya barasal dari bahasa sanskerta budhayah yaitu bentuk jamak dari kata budi atau akal. Yang berkenaan dengan akal budi tetapi dalam penekanan kata kerjanya bahasa latin menyebutkan sebagai corela yang artinya mengolah, menyuburkan, mengembangkan tanah. Dari kata latin ini lahirlah turunan dari bahasa inggrisnya sebagai culture yang umum dikalangan antropologi diterjemahkan sebagai kebudayaan. Sedangkan kata cutural diterjemahkan menjadi budaya.

Antropolog Kroeber dan kluckhohn telah menghimpun 164 definisi kebudayaan, dimana definisi –definisi tersebut masing-masing member penekanan pada deskriftif, historis, normatis, psikologis, structural dan genetis. Sedangkan keesing mengidentifikasi empat pendekatan terhadap kebudayaan antara lain sebagai berikut:
  1. Kebudayaan sebagai sistem adaptif yang fungsi utamanya adalah penyesuian diri masyarakat terhadap lingkungan nya. 
  2. Kebudayaan sebagai sistem kognitif yang tersusun dari apapun yang diketahui dalam berpikir menurut cara tertentu yang berlaku bagi warga kebudayaan.
  3. Kebudayaan sebagai sistem struktur dari simbol-simbol yang di miliki bersama yang memiliki analogi dengan struktur pemikiran manusia.
  4. Kebudayaan sebagai sistem simbol yang terdiri simbol-simbol dan makna –makna yang dimiliki bersama, yang dapat di identifikasi, dan bersifat publik.
Dari semua definisi tersebut akhirnya bermuara kepada perdebatan apakah kebudayaan itu merupakan kognitif atau konkrit. Karena sebagian ahli berpendapat bahwa kebudayaan merupakan kawasan kognitif yang berarti ada dalam pikiran manusia. Sebagian ahli mengatakan bahwa atas lawlwess dalam saifuddin 2005 mendefinisikan kebudayaan sebagai polo-pola prilaku dan keyakinan (dimendiasi oleh simbol) yang di pelajari , rasional, terintegrasi, dimiliki bersama, dan secara dinamik adaftif dan yang tergantung pada interaksi social manusia demi eksistensi mereka.

Dengan demikian suatu budaya meruapakan suatu kumpulan pengetahuan yang di dalamnya sangat tergantung kepada simbol-simbol yang merupakan citra bunyi, kata, gambar yang mempunyai makna. Untuk melarang anaknya tidak bermain di semak belukar, si orang tua tidak akan mengatakan:’’ Nak, kau jangan main disemak sana karena disana ada binatang seperti cacing, besar, bersisik, berlari sangat cepat, punya lidah yang bercabang, kalau menggigit bisa mematikan’’. Orang tuanya akan bilang:’’Nak, jangan main disana karena banyak ular’’. Kata ular merupakan citra bunyi yang mewakili gagasan tentang binatang berbisa yang berlari sangat cepat, bentuknya seperti cacing tetapi bersisik dan besar. Kebudayaan karena ia merupakan seperangkat pengetahuan maka ia sangat tergantung dengan adanya simbol-simbol yang maknanya diolah oleh otak manusia.

Sifat pengetahuan tadi tidak bersifat biologis namun bisa dipelajari di antaranya melalui sosialisasi didalam keluarga dan di masyarakat sehingga menjadi pengetahuan yang bersifat publik tersebut telah menjadi bahagian dari kehidupan individu yang bersangkutan. Pengetahuan dan pola-pola tingkah laku digunakan sebagai strategi adaptasi terhadap longkungan alam maupun buatan.

Share :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Histats

Pengikut